SMA Islam Diponegoro Surakarta (10 November 2023)

Siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dengan kondisi kegiatan pembelajaran yang tidak sesuai harapan.

Konseli merasa kesulitan dalam mengingat  materi pelajaran padahal menurut hasil psikotest siswa termasuk siswa yang pandai kemudian hal ini juga dipengaruhi oleh motivasi siswa sering menurun karena ekspektasi kegiatan pembelajaran yang tinggi.

Pada kegiatan pembelajaran konseli sering mengantuk dan tidur di kelas. Konseli merasa bosan pada mata pelajaran tertentu. Konseli juga merasa tidak cocok dengan temannya ketika belajar kelompok, karena kalau mengerjakan tugas selalu menunda – nunda tidak langsung mengerjakan. Kurangnya motivasi konseli untuk belajar karena tidak ada persaingan di kelas. Pikiran konseli juga sering terganggu dengan kondisi orang tua yang berpisah.

Kemudian tingginya ekspektasi konseli terhadap mata pelajaran yang menarik tetapi dalam kenyataannya kurang menarik jadi motivasinya berkurang karena ternyata guru dalam menyampaikan pembelajaran secara monoton sehingga kondisi kelas kurang kondusif.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, konseli kesulitan untuk fokus pada menerima pembelajaran baik di kelas maupun di luar sekolah. Kondisi ini perlu segera ditangani agar konseli dapat segera mengatasi kesulitan belajarnya dan merasan puas akan pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Pendekatan Konseling Cognitive Behavior (CBT) dengan menggunakan teknik Restrukturisasi Kognitive dapat diterapkan untuk permasalahan kesulitan konseli dalam mengikuti pelajaran.

Hal ini selarasa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nur Ainun Rambe (2018) dengan judul “Penerapan Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Cognitive Behavior Therapy Terhadap Kesulitan Belajar Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 01 Medan Tahun Ajaran 2017/2018”.

Melalui pendekatan Konseling Cognitive Behavior (CBT), siswa akan berkolaborasi dengan konselor untuk berfokus menemukan solusi sehingga ada perubahan pada distorsi kognitif pada konseli. Yaitu perubahan dari pola pikir negatif tentang pembelajaran yang kurang menyenangkan menjadi pola pikir yang positif sehingga puas akan pembelajaran yang diberikan sehingga motivasi untuk terus belajar dapat terus terjaga.

Praktik ini penting dibagikan sebagai salah satu referensi penggunaan pendekatan CBT untuk mengatasi kesulitan belajar konseli.

Peran dan tanggung jawab sebagai seorang guru bimbingan konseling dalam layanan konseling kelompok ini adalah sebagai konselor membantu konseli untuk:

  1. Membangun Hubungan Baik

Membina hubungan baik antara konselor dengan konseli untuk berkolaborasi, dengan menggunakan topik netral sehingga bisa membangun kemungkinan – kemungkinan dan kekuatan konseli untuk membangun solusi.

  1. Mengidentifikasi Permasalahan yang bisa ditemukan Solusinya
    1. Konselor mendorong konseli untuk menyatakan perasaannya terhadap permasalahan yang di Konselor mengajukan beberapa pertanyaan- pertanyaan kepada konseli mengenai kesulitan-kesulitan belajar yang dialaminya, dan yang menjadi fokus pada faktor penyebab dari kesulitan belajar.
    2. Konseli diminta untuk mengidentifikasi dampaknya saat ini
  2. Menetapkan Tujuan
    1. Konselor meminta konseli untuk menceritakan tujuan yang ingin dicapai.
    2. Konselor bersama konseli menetapkan tujuan.
  1. Merancang dan Menetapkan Intervensi
    1. Konselor meminta konseli untuk menceritakan kembali tujuan yang ingin dicapai.
    2. Konselor bersama konseli menetapkan solusi agar konseli bisa mengubah pola pikirnya.
    3. Konselor bersama konseli membuat pernyataan coping thought.
    4. Konselor mengajak konseli untuk selalu fokus pada pikiran positif yang memotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik.
  2. Pengakhiran, Evaluasi, dan Tindak Lanjut
    1. Konselor memberikan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman diri konseli terhadap pendekatan yang dilakukan pada saat sebelum dan setelah konseling.
    2. Konselor mengidentifikasi keberhasilan konseling dengan mengajukan beberapa  pertanyaan pada konseli.
    3. Konselor memberikan umpan balik berupa pujian.

Konselor bersama konseli mengevaluasi perubahan yang terjadi pada konseli pada saat mengikuti layanan konseling kelompok sesi pertama dan sesi kedua.

Tantangan yang dihadapi guru dalam situasi yang telah dianalisis :

  1. Kurangnya persiapan dan latihan konselor dalam penggunaan pendekatan yang dipilih.
  2. Kesulitan dalam management waktu.
  3. Terburu-buru dalam penyampaian  layanan.                                          Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan:
    1. Konselor perlu lebih banyak latihan dengan melakukan konseling dengan menggunakan teknik – teknik konseling.
    2. Konselor perlu belajar dalam memanagement waktu dalam pemberiaini layanan dengan menyesuaikan jadwal sehingga tidak terkesan dikejar waktu.
    3. Dalam penyampaian layanan konselor diharuskan untuk tetap tenang dan fokus.

    Strategi yang digunakan dalam melakukan layanan konseling kelompokadalah menggunakan pendekatan Konseling Cognitive Behavior dengan teknik restrukturisasi kognitif.

Dampak dari langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Konselor mampu menerapkan pendekatan Konseling Cognitive Behavior dalam layanann konseling kelompok
  2. Konseli mampu mengidentifikasi permasalahan yang dialaminya, dan mampu menentukan solusi.
  3. Konseli menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan layanan BK selanjutnya.
  4. Konselor dapat mengetahui dan dapat merefleksikan diri tentang apa yang telah dilaksanakan.

Hasil dari kegiatan yang dilakukan yaitu kegiatan berjalan efektif, ketercapaian tujuan layanan dapat dilihat dari hasil pengisian lembar evaluasi. Respon peserta didik terkait strategi yang dilakukan sudah baik, mampu mengatasi kesulitan belajar dengan membuat pikiran – pikiran positif dan dapat diterapkan pada peserta didik atau konseli yang lain, yang memiliki permasalahan yang sama.

Faktor Keberhasilan Strategi:

  1. Pihak terkait mendukung kegiatan layanan konseling kelompok.
  2. Konseli mampu mengubah pikiran negatifnya menjadi pikiran positif untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
  3. Konseli mampu mengikuti kegiatan pembelajaran dengan fokus pada tujuan yang ingin dicapai konseli
  4. Konseli mampu membedakan pikiran – pikiran negatif yang dapat menghambat fokus belajar
  5. Konseli mampu memotivasi diri untuk selalu berpikiran positif pada kesulitan yang dihadapi.
  6. Konseli mampu menentukan langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan belajar.
  7. Kegiatan layanan konseling kelompok berjalan dengan baik dan lancar.

Faktor Ketidakberhasilan Strategi :

Strategi dapat dikatakan berhasil, jika faktor yang kurang mendukung dapat ditangani dengan baik.

Pembelajaran dari keseluruhan proses:

Konseli mampu mengatasi kesulitan belajar dengan selalu fokus pada tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran

Memantau perkembangan konseli dan melakukan evaluasi jika diperlukan,

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *